Kalian Wajib Ketahui! Berikut Peninggalan Budaya Indonesia yang Masuk Catatan UNESCO

Memandang bermacam- macam suku serta budaya yang terdapat di Indonesia, sebagian antara lain telah masuk jadi peninggalan budaya UNESCO nih sahabat.

UNESCO ini ialah singkatan dari United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization.

UNESCO sendiri ialah suatu organisasi internasional di dasar PPB yang mengurusi seluruh perihal yang berhubungan dengan pembelajaran, sains, dan kebudayaan di dalam rangka tingkatkan rasa silih menghormati yang berlandaskan pada keadilan, peraturan hukum, dan HAM.

Bagaikan data, tugas utamanya yakni buat memajukan kerja sama antarbangsa pada bidang pembelajaran, sains, dan kebudayaan tersebut.

Saat ini ini, UNESCO ini telah beranggotakan 191 negeri( tercantum pula Indonesia) serta berlokasi

Unesco House, Place de Fontenoy, Paris de, serta France.

Terdapat 9 budaya Indonesia yang sudah masuk dalam catatan UNESCO.

Dengan masuknya pencak silat, total terdapat 10 budaya Indonesia yang sudah masuk catatan peninggalan budaya tidak barang di dunia.

Mengutip dari halaman UNESCO, tidak hanya pencak silat, berikut catatan budaya- budaya tersebut yang wajib kalian tahu nih sahabat.

Awal, Pinisi.

Pinisi yang dioperasikan Plataran di Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timir, Selasa( 19/ 1/ 2016).

Pinisi diresmikan bagaikan salah satu peninggalan budaya tidak barang oleh UNESCO pada tahun 2017.

Pinisi ataupun seni pembuatan kapal di Sulawesi Selatan mengacu pada tali temali serta layar dari” Sekunar Sulawesi” yang populer.

Konstruksi serta sebaran kapal – kapal tipe ini sudah jadi tradisi tertentu dalam pembuatan kapal serta navigasi Austronesia BSBI .

Untuk warga Indonesia ataupun internasional, pinisi sudah jadi lambang kapal layar pribumi Nusantara.

Dikala ini, pusat pembuatan kapal ini terdapat di Tana Beru, Bira, serta Batu Licin.

Di wilayah- wilayah ini, 70 persen warganya mempunyai pekerjaan yang berhubungan dengan pembuatan kapal dan navigasi.

Kedua, Tari Tradisional Bali.

Terdapat 3 genre tari tradisional Bali yang pula diresmikan bagaikan peninggalan budaya tidak barang oleh UNESCO.

Penetapan ini dicoba pada tahun 2015.

3 genre tarian yang diartikan merupakan sakral, semi sakral, serta yang bisa dinikmati warga luas.

Tarian tradisional Bali dipertunjukan oleh penari pria serta wanita berpakaian tradisional, ialah terdiri atas baju bercorak cerah dengan motif bunga serta hewan emas, dilengkapi aksesori berbentuk daun emas serta permata.

Tarian ini termotivasi dari alam serta menyimbolkan tradisi, adat istiadat, serta nilai- nilai agama tertentu.

Tidak hanya metode, penari wajib mempunyai karisma, kerendahan hati, serta tenaga spiritual spesial buat menghidupkan gerakan dalam tariannya.

Ketiga, Noken.

Noken merupakan tas anyaman buatan tangan yang berbahan serat kayu ataupun daun.

Tas ini terbuat oleh warga di Provinsi Papua serta Papua Barat.

Noken diresmikan bagaikan peninggalan budaya tidak barang oleh UNESCO pada tahun 2012.

Pria serta wanita memakai noken buat bawa hasil panen, tangkapan dari laut ataupun danau, kayu bakar, balita, ataupun hewan- hewan kecil.

Dalam perayaan tradisional, noken umumnya dikenakan ataupun diberikan bagaikan persembahan.

Metode pembuatan noken berbeda- beda.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top